BERKAH, PENGAKUAN DAN KEYAKINAN
Wujud dan Pengetahuan Mengantarkan Kebahagiaan Bersama Rasul
Sesungguhnya Kami mengutus kamu (Muhammad dan para penerus tugas kerasulan yang rantai marantai tidak pernah putus hingga hari Qiyamat) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan; agar kamu semua (ummat yang di tengah-tengahmu ada Muhammad dan para penerus tugas kerasulan yang rantai marantai tidak pernah putus hingga hari Qiyamat itu) beriman dan yakin seyakin-yakinnya kepada Allah, rasulNya, menguatkanNya dan membesarkanNya. Dan bertasbih kepadaNya di waktu pagi dan petang; Bahwasanya orang-orang yang berbaiat kepadamu sebenarnya mereka berbaiat kepada Allah. Tangan Allah berada di atas tangan mereka. Maka siapa yang melanggar (janjinya), maka sesungguhnya ia memutuskan untuk kerugiannya sendiri; dan siapa yang menyempurnakan apa yang dia telah ia janjikan kepada Allah, maka Dia segera akan memberinya balasan yang besar.” (Al-Fath, 48 : 8,9,10)
Marilah bersama-sama menghaturkan rasa syukur kehadirat Diri Dzat Wajibul Wujud Yang Allah AsmaNya. Bersyukur karena hanya karena Dia-lah, kita dapat menjalani segala aktifitas, termasuk di dalamnya aktifitas dalam upaya latihan berperang di jalanNya. Dan bersyukur karena kita masih diberi kesempatan untuk menarik nafas dengan menyertakan pengakuan dan keyakinan akan Diri Dzat Wajibul Wujud. Ada beberapa catatan mengenai fenomena dan dinamisasi kehidupan saat ini, catatan mengenai cara pandang jahiliyyah.
Banyak orang menyangka bahwa masa jahiliyyah telah berlalu dan tak akan kembali lagi. Dalam benak mereka, yang disebut jahiliyah adalah paganisme primitif yang dilakukan orang-orang Arab sebelum datangnya Al-Islam. Yang disebut jahiliyah pada hakekatnya adalah sikap keengganan untuk mengabdi kepada Allah semata, atau sikap penolakan untuk tunduk secara mutlak kepada-Nya. Jahiliyah tersebut, apapun bentuknya, memiliki beberapa ciri yang semuanya tidak lain muncul dari sikap di atas. Ciri pertama adalah pengabdian kepada selain Allah (syirik); ciri ini timbul sebagai akibat yang pasti dari keengganan untuk mengabdi kepada Allah semata. Ciri kedua adalah adanya thaghut, yaitu sesuatu yang diabdi selain Allah. Ciri ketiga adalah kepengikutan kepada hawa hafsu; ciri ini timbul karena hawa nafsulah yang bermain, tatkala manusia terlepas dari sikap tunduk dan mengabdi kepada Allah semata. Ciri keempat adalah tenggelamnya manusia jahiliyah ke dalam lumpur syahwat hewani. Kita awali dengan pendekatan penjelasan wujud dan pengetahuan.
Wujud dan Pengetahuan
Kata wujud berasal dari bahasa arab wajada. Wujud dalam dirinya sendiri tidak dapat diketahui. Yang kita anggap wujud ini tidak bisa kita definisikan. Sedangkan kita yang wujud ini sebenarnya hanya akibat dari wujud yang sesungguhnya. Ini sulit kita pahami, karena kosakata kita tidak bisa menjangkau aspek spiritual ini. Ini satu bukti betapa timpangnya perhatian kita terhadap persoalan ini. Bukan kesalahan kita untuk tidak dapat memahami persoalan ini, tetapi fasilitas yang ada sangat terbatas untuk menjelaskannya.
Ada dua hal yang perlu dijelaskan di sini. Pertama, penyamaan itu lebih dekat pada kesatuan. Meminjam bahasa Taoisme, karena inilah yang lebih mudah untuk dapat menjelaskannya. Penyamaan dan perbedaan adalah dua hal yang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan.
Kedua, wujud dan hakikat. Kata wujud adalah bahasa Arab dan hakikat juga bahasa Arab, tetapi keduanya sudah menjadi bahasa Indonesia. Wujud adalah eksistensi sedangkan hakikat adalah realitas.
Wujud dalam dirinya sendiri tidak dapat didefiniskan. Yang sesungguhnya berwujud itu tidak dapat kelihatan. Wujud hanya dapat diketahui oleh entitas lain. Wujud hampir sama dengan penjelasan kita terhadap cahaya. Jika kita melihat cahaya, dan kita pastikan cahaya itu ada. Akan tetapi, yang terlihat di situ adalah benda-benda yang tersingkap oleh cahaya.
Jadi, wujud itu sesuatu yang tidak tampak pada dirinya sendiri, tetapi kehadirannya menyebabkan wujudnya objek-objek yang lain. Yang tampak adalah objeknya, bukan cahayanya itu sendiri. Wujudnya tidak tampak, tetapi memungkinkan kita untuk melihat wujud-wujud selainnya. Jadi, wujud dapat diibaratkan dengan cahaya. Hakikat wujud yang sesungguhnya itu sendiri tidak terlihat. Yang terlihat ada ini bukan hakikat wujud, sebagai hakikat wujudnya adalah Allah SWT.
Tuhan Mahatahu akan kelemahan kita. Oleh karena itu, kita selalu memperbaiki iman kita dengan kalimah thayyibah. Hanya orang yang merasa sangat dekat dengan Tuhan mau menanyakan pribadi Tuhan. Tidak mungkin menanyakan hal-hal pribadi kepada orang yang tidak dekat. Seperti halnya Nabi Ibrahim AS menanyakan hakikat Tuhan. Begitu juga dengan Nabi Musa AS.
Dikatakan bahwa wujud bagaikan cahaya, tetapi sesungguhnya tidak sama dengan cahaya. Ini hanya perumpamaan saja untuk mendekatkan kita kepada pemahaman ini. Semakin terang sebuah cahaya semakin sulit kita memahami dan menangkapnya. Wujud tidak bisa didefinisikan dan diketahui. Ia identik dengan essensi ilahi. Wujud merupakan jumlah keseluruhan dari segala sesautu yang diciptakan. Pulpen, komputer dan LCD, misalnya, apakah itu wujud atau benda? Semuanya itu adalah benda yang merupakan akibat dari perwujudan itu.
Dengan menggunakan buku-buku karya Ibn 'Araby untuk menjelaskan mengenai konsep wujud, dapat dikatakan, bahwa "Allah sebagai yang satu dan yang banyak." Dari mana datangnya yang banyak? Datangnya yang banyak itu dari yang satu. Allah mengetahui segala sesuatu.
Pengetahuan Allah yang berbilang-bilang ini adalah sumber manifestasi makhluk. Banyak ilmu dan banyak nama, tetapi hanya satu Allah SWT. Objek yang dilihat oleh mata ini sangat banyak, berbilang dan berwarna, tetapi pada hakikatnya adalah manifestasi dari yang wujud. Allah Swt Maha Tunggal atau Maha Esa. Di mana Allah dan di mana makhluknya? Allah tidaklah tergantung kepada makhluk, dan yang tergantung adalah kita. Allah adalah adalah bagaikan Yan dan kita dan seluruh makhluknya adalah Yin. Meskipun pengetahuan Tuhan bermacam-macam tetapi kalau disedot kembali menjadi satu kepada sumbernya.
Ketika melihat sifat maskulinitas Tuhan maka kita akan melukiskan bahwa Allah Maha berbeda dengan kita. Sedangkan kalau melihat sifat-sifat Allah yang feminin maka akan ada kesamaan dengan kita. Contoh lain, kriteria apa yang bisa kita gunakan untuk mengukur bahwa sesuatu itu baik atau buruk? Kerbau misalnya, jika ia (anak kerbau) berhubungan badan dengan induknya, apakah baik atau buruk, apa salah atau benar? Bagi penggembala kambing itu baik, karena sebentar lagi populasi kambingnya bertambah. Akan tetapi, kalau perbuatan itu dilakukan manusia, misalnya dilakukan seorang anak kepada ibunya, kita bisa memastikan perbuatan itu buruk dan tidak baik, karena ada norma khusus yang kita gunakan untuk menilainya. Jadi, tidak semua yang berbeda itu salah atau tidak semua yang sama itu baik, demikian pula sebaliknya. Tergantung nilai dan norma apa yang kita gunakan untuk mengukurnya.
Pendekatan kita kepada Allah ada dua model yang saling berkontribusi. Pertama, dengan pendekatan fiqh, substansi yang menonjol dalam menyembah Allah SWT adalah ketakterjangkauan Tuhan. Sebab yang dikedepankan dalam fiqh adalah aspek jalliyah (keagungan/ketakterbandingan) Tuhan, bukan aspek jamliyah-Nya (keindahan/keserupaan).
Di antara imbas pendekatan fiqh bagi kita adalah takut kepada Allah. Jika ketakutan yang dominan, maka kita harus taat dan tunduk. Ini tidak salah, karena memang fiqh seperti itu.
Pendekatan kedua yaitu pendekatan tasawwuf. Yang ditekankan dalam tasawuf adalah bukan objek Tuhan sebagai sesuatu yang tak terjangkau (transendent) melainkan sebagai sesuatu yang dekat (immanent). Dengan demikian, yang terjadi kemudian adalah kecintaan kita kepada Allah. Dengan kedekatan ini, efek selanjutnya adalah kecintaan dan kepasrahan total kepada Allah SWT.
Kedua pendekatan ini dapat kita lakukan, karena banyak lorong menuju Allah. Orang yang menonjolkan aspek jamliyah Tuhan dapat melakukan ketaatan dengan ketulusan dan kepasrahan secara otomatis. Sedangkan orang yang lebih mengedepankan aspek jalliyah Tuhan melakukan ketaatan dengan keterpaksaan dan keberatan.
Orang yang telah mampu menekankan aspek jamliyah Tuhan akan menjadikan ibadah sebagai rutinitas yang otomatis, bagaikan matahari dan rembulan yang berjalan tepat waktu tanpa berkurang atau lebih. Yang terbaik tentunya ialah kombinasi; kedua model pendekatan itu dan model ini banyak dilakukan oleh para sufi. Misalnya Al-Gazali di dalam kitab monumentalnya, Ihya 'Ulum al-Din. Ketika ia menjelaskan Rukun Islam, ia membahasnya ke dalam dua aspek, yaitu aspek fikih (eksoterik) dan aspek sufistik (esoterik). Shalat, puasa, zakat, dan haji memiliki nuansa fisik lahiriyah dan nuansa batin.
Ibn 'Atha'illah melukiskannya dengan baik: "Barang siapa yang berfikih tanpa bertasawuf maka ia fasiq, barang siapa yang bertasawuf tanpa berfikih maka ia zindiq, dan barang siapa yang menggabungkan keduanya maka ia mencapai hakekat".
Kebahagiaan bersama rasulullah
Kebahagiaan bersama Nabi Muhammad SAW sesungguhnya tak hanya milik para sahabat dan kaum Muslimin yang hidup di awal periode Islam. Kebahagiaan itu juga milik semua orang yang beriman kepada beliau, meskipun mereka tidak pernah bertemu dan melihatnya secara langsung.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasul SAW memberikan penghormatan lebih besar justru kepada orang-orang Islam generasi belakangan. Katanya, ''Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku, lalu berbahagialah (Rasul mengulang tiga kali) orang yang tidak melihatku, tetapi beriman kepadaku.'' (HR Ahmad dari Abi Sa`id al-Khudri).
Dalam hadis Ahmad yang lain dari Abi Umamah, juga dari Anas Ibn Malik, diterangkan bahwa penghormatan Nabi itu diungkapkan bukan tiga kali, melainkan tujuh kali. Pertanyaannya, mengapa Rasul memberikan penghargaan begitu besar justru kepada orang-orang yang beriman dari generasi belakangan? Apakah penghormatan itu pantas buat mereka? Jawabannya, penghargaan itu tentu saja tepat dan pantas buat mereka karena tiga alasan berikut ini.
Pertama, mereka beriman kepada Rasul meski tak pernah melihat dan bertemu beliau secara langsung. Mereka tetap beriman meski tidak menyaksikan Kanjeng Nabi secara fisik dalam kehidupan sehari-hari. Namun mereka paham sepahamnya mengenai konsep uswah.
Kedua, bila kaum Muslim generasi awal mendapat kemuliaan karena fitnah dan ujian berat yang mereka derita, maka fitnah dan ujian yang sama juga bisa menimpa kaum Muslim generasi belakangan, bahkan bisa lebih berat lagi. Ingat sabda Nabi, ''Islam datang sebagai sesuatu yang asing, dan akan kembali menjadi asing, maka berbahagialah orang-orang yang asing.''
Ketiga, penghormatan itu berkenaan dengan peluang dan kesempatan dakwah yang dimiliki kaum Muslim generasi sekarang. Dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kaum Muslim sekarang bisa berdakwah dan mengembangkan Islam secara lebih luas, tak hanya pada tataran nasional, tapi juga regional dan global. Dan generasi belakangan ini berada dalam peperangan yang paling dahsyat. Jihadun Nafs. Generasi belakangan inilah yang kita kenal sebagai ummatan wasathan. Bagaimana pemahamannya. Dijelaskan dengan pemahaman baiat.
Baiat Merupakan Syariat Islam
Baiat berasal dari kata: baa’a – yabii’u – bay’an – wa bay’atan --Artinya menjual. Maksudnya adalah “Janji setia sebagai bentuk pengakuan dan keyakinan yang disampaikan oleh murid kepada diri Dzat Wajibul Wujud Yang Allah Asma-Nya melalui washitah (maksud implisit dari Dhamir Mukhatab “ka” pada surat Al-Fath ayat 10)”
Ajaran baiat, terdapat dalam kitab Taurat, Injil dan Alquran (QS 9 : 112). Jadi baiat merupakan ajaran setiap agama yang ditegakkan kembali dan dilestarikan oleh Islam melalui sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan dilanjutkan oleh Khulafaur-Rasyidin-Al Mahdiyyin hingga sekarang. Bai’at merupakan alat pengikat ketika seseorang memasuki pintu gerbang Islam Kaffah yang dikehendaki oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Karena itu, orang yang mati tanpa ikatan baiat, dalam sabda KN Muhammad saw disebut sama halnya dengan mati jahiliyyah.
“ Man maata wa laa bay’atan ‘alayhi, maata miitatan jaahilyyatan” yang maksudnya siapa yang mati, padahal tidak ada baiat di atasnya, maka berarti ia mati seperti kematian orang jahiliyyah.” (HR Ahmad bin Hanbal, dan Ibnu Sa’ad—dari Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘anhu; dan Kanzul-Umal, Juz I/463). Senada dengan “Dan siapa yang mati, padahal tidak baiat atas Imam pada zamannya, maka sesungguhnya kematiannya itu seperti kematian orang yang jahiliyyah.” (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Umar Radhiyallaahu ‘anhu; dan Kanzul-Umal, Juz I/1035). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka, apabila kamu sekalian mengetahuinya (Imam Mahdi), maka berbaiatlah kamu kepadanya, meskipun kamu merangkak di atas salju, karena ia Khalifatullah, Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah, dan Al-Hakim)
Perlu diketahui bahwa Hadits ini, menurut Ibnu Majah: isnad-nya Shahih, rijal-nya tsiqat (para perawinya kuat hapalannya dan adil) serta kesahihannya berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim. Dengan demikian, sangat meyakinkan bahwa baiat itu adalah Sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah Khulafaur-Rasyidin Mahdiyyin dan pada zaman akhir ini akan ditegakkan kembali oleh Imam Mahdi semata-mata untuk mengikuti perintah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karena itu, maksud kandungan surat yang dinukilkan di bagian awal tulisan ini adalah, berbaiat kepada Imam Zaman yang tugasnya sebagai wasithah buah manfaatnya sama persis sebagaimana jika berbaiat kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Karena talkim yang merupakan isi dari baiat tersebut, sama persis tidak ada perbedaan sama sekali dengan talkim pada zaman Kanjeng Nabi Muhammad masih sugeng. Bahkan sama persis dengan yang ditalkimkan oleh Kanjeng Nabi Isa, Musa, Daud, Ismail, Ibrahim dan Kanjeng Nabi Adam pun. Oleh karena itu, syukur mendalam wajib kita istiqomahkan. ***
Komentar